JAVASCHE BANK BATAVIA (bangunan jaman pra kemerdekaan)

  • Nama                                     : De Javasche Bank
  • tahun pembangunan      : 1910 (phase 1)
    1922 (phase 2)
    1924 (phase 3)
  • Architect                   : Hulswit, Fermont & Ed Cuyper
  • Today Usage            : Museum

SEJARAH SINGKAT PEMBANGUNAN

  • Museum Bank Indonesia adalah sebuah museum yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat (depan stasiun Beos Kota), dengan menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal,
  • Gedung ini berdiri di Batavia pada 24 Januari 1828. Awalnya, gedung ini adalah rumah sakit (Binnen Hospitaal) yang terletak persis di sebelah dalam tembok kota tua. De Javasche Bank (DJB), cikal bakal Bank Indonesia, kemudian menempati bangunan dua lantai bekas rumah sakit ini.
  • Gedung ini pertama kali digunakan oleh De Javasche Bank sejak 8 April 1828. Pada tahun 1910, setelah lebih dari 80 tahun menempati gedung tua ini, De Javasche Bank mulai direnovasi. Perancangan bangunan dikerjakan oleh Biro Arsitek Ed Cuypers & Hulswit (Fermont-Cuypers).
  • Pembangunan tahap pertama, 1910, selesai pada tahun 1912, menghasilkan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa. Pada tahun 1922, pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti: ruang simpan barang berharga dan ruang arsip.
  • Pembangunan tahap ketiga (1924) merupakan perluasan dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Selain itu, dibuat pula bangunan sepanjang “Javabankstraat” (kini Jalan Bank), yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan baru ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani.
  • Tahun 1933, dalam pembangunan kali ini, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain antara lain beberapa unit tambahan ruang simpan barang berharga. Pembangunan dilanjutkan dengan tahap kelima (1935) yang memodernisas iarsitektur tahap pertama. Selain menganut “one door system” untuk menggantikan dua pintu gerbang masuk sebelumnya, tahap ini juga menghilangkan kubah yang semula menghiasi atap gedung. Pembangunan ini selesai dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937

DESAIN

Bangunan Javasche Bank ini menganut gaya bangunan pada masa Renaisance. Ciri-ciri ini terlihat dari dekorasi bangunan. Tampak pula gaya renaissance pada pattern dinding bagian bawah yang dibuat bergaris-garis layaknya dinding-dinding dengan batu  bata (masonry).

Pada gambar diatas terlihat adanya minarate yang menunjukkan ciri khas bangunan masa kolonial. Bangunan ini menggunaan tritisan untuk mengurangi tampias air hujan dan Bukaannya juga terlihat begitu lebar sehingga mendukung sirkulasi udara ke dalam bangunan. Kebanyakan bangunan sekarang cahaya matahari atau tampiasan air hujan langsung kedalam bangunan lewat jendela/bukaan  dihalangi oleh katakanlah semacam sorsoran yang menjorok ke keluar bangunan akan tetapi pada bangunan ini justru bagian jendelanya yang dibuat mundur atau menjorok ke dalam.

Pada gambar tampak diatas terdapat Dormer ditata dengan rapih disepanjang atap. dormer ini disebut sebagai lantern dimana fungsinya sebagai sirkulasi cahaya maupun udara. Dibagian tengah-tengah gambar tampak diatas Terdapat menara jam yang lazim berada pada bangunan penting pada zaman kolonial.

Bangunan ini menggunakan relief bergaya campuran dari candi borobudur dan gaya klasik eropa, menurut informasi yang saya dapatkan bangunan Javasche bank batavia ini adalah bangunan gaya klasik eropa pertama sehindia belanda yang menggunakan campuran gaya dekorasi daerah setempat/lokal.

Kolom-kolom pada bangunan ini menggunakan yunani doric.

Gambar di atas adalah gambar kaca patri. Kaca-kaca patri di gedung ini dipesan dari studio Jan Schouten, Delft, Belanda—diperkirakan pada sekitar 1922, 1924, dan 1935, ketika gedung ini dibangun. Karena dirawat dengan hati-hati, sampai saat ini kondisi kaca-kaca patri ini masih baik. Kaca patri ini adalah kaca yang dilukis dan diberi warna dengan cara dibakar hingga 1.100°C agar mendapat kualitas warna yang terbaik. Setelah diwarnai, kaca tersebut dirangkai menjadi beragam motif dengan menggunakan patrian timah. Motif lukisan kaca patri di gedung ini kebanyakan mewakili berbagai aspek seputar perdagangan dan kehidupan di Hindia Belanda.

Kaca patri di lobi ini terdiri dari tiga bagian. Di baris paling atas, sebelah kiri, menunjukkan seorang dewi berlambang kota Batavia (sebagai tempat berdirinya De Javasche Bank); dan di sebelah kanan menunjukkan seorang dewi berlambang kota Surabaya. Kaca-kaca patri di baris tengah menggambarkan berbagai kegiatan seni, seperti menyanyi, fotografi, drama, mematung, pembuatan film dan keramik. Pada baris terbawah, digambarkan berbagai aktivitas masyarakat Hindia Belanda kala itu. Dua yang paling kiri menggambarkan kegiatan bertenak dan bertani; di tengah menunjukkan dua kapal—kapal bermesin uap dan kapal layar—yang melaut mengangkut kekayaan Nusantara; dan dua yang paling kanan menggambarkan kegiatan panen dan membatik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: